Bercinta dengan Hantu
Sorot matahari pagi membangunkanku. Hah!, mengapa aku tertidur di pemakaman?.
Terakhir yang aku ingat, aku dan wanita itu asyik bercinta di sebuah taman yang indah. Sebelum bercinta, wanita itu menghidangkan makanan yang lezat dan minuman segar berwarna merah. Wanita itu menyuapiku dengan manja. Akupun balas menyuapinya. Seperti adegan di film-film India, diiringi musik yang menghanyutkan wanita itu menari gemulai sambil melepaskan pakaiannya sehelai demi sehelai.
Baju dan celana jeansku berlepotan tanah merah. Semalaman aku tertidur di atas makam tua. Nama yang tertulis di nisan itu sudah tidak jelas terbaca karena sebagian telah tertutup lumut dan semennya rontok
Aku sempat melirik, di dekat kakiku ada sekumpulan belatung, cacing tanah yang dikuahi darah dalam dua buah picuk daun. Hih, badanku bergidik. Aku pun bergegas meninggalkan makam tua itu sambil mataku sibuk mencari motor bebek ku.
Motor bebek ku tergeletak di dekat pohon beringin. Beberapa kali aku menstaternya. Seorang kakek pembersih makam, sesaat menghentikan pekerjaannya. Sambil memegang sapu, ia memandangku penuh arti lalu tersenyum, "mas, celananya kok basah?."
Secepat kilat, aku melihat ke arah celana jeansku. Iya celanaku basah. Tapi bukan karena pipis, ada cairan kental yang membekas di celana. Aku jadi malu pada kakek itu. Sial!, apa mungkin si kakek itu tahu kalau semalam aku tidur dengan wanita hantu?.Bergegas aku meninggalkan kakek itu yang masih terus saja memandang ke arahku. Motor bebek ku melintasi jalan Malioboro. Jalan ini yang rutin aku lalui saat aku berangkat dan pulang kerja. Sebagai seorang security sebuah mall, pulang pergi di tengah malam adalah hal yang biasa. Sepi dan dinginnya angin malam sudah jadi santapan sehari-hari..
Baru separuh jalan arah ke rumah, seorang wanita melambai-lambaikan tangannya. Motor ku stop. Tengok kekanan dan kekiri. Tidak ada siapa-siapa?. Kepada siapa wanita itu melambaikan tangannya?. Samar-samar ku perhatikan wanita itu. Hah!, wanita itu lagi?!. Wanita yang pernah bercinta denganku di pemakaman?. Bukan!. Dia bukan wanita!. Dia itu hantu!.
Wanita itu melambai-lambaikan tangannya lagi. Aku sempat ragu. Ku perhatikan lagi wanita itu. Ada yang berbeda. Waktu pertama bertemu, ia mengenakan daster putih yang panjang sampai menutupi mata kakinya, rambut panjangnya digerai, hingga poninya hampir menutupi matanya yang sayu. Wajah dan bibirnya pucat. Kalau mengingat itu lagi, aku sebenarnya takut. Kali ini lain, ia mengenakan daster batik. Rambutnya digelung hingga leher kuning langsatnya yang jenjang terlihat. Warna merah muda menghiasi bibirnya yang tipis. Hmm, semakin cantik saja wanita itu.
Ku pikir lagi, mana mungkin wanita secantik itu hantu?. Sambil berseloroh dalam hati, lagi pula mana ada hantu pakai daster batik?. Hehehe.
"Tolong antar aku, Mas?." Suaranya yang lirih sempat mebuatku merinding.
"Kemana mba?."
"Terserah mas saja!."
Aneh?. Minta diantar kok bilangnya terserah. Pikirku bingung. "Kalau minta diantar ke pemakaman, maaf mba, saya tidak mau!. Lebih baik cari orang lain saja!." Kataku tegas.
"Ngapain malam-malam ke pemakaman, mas?."
Hihihi, ngapain ya?. Aku cuma nyengir saja.
Wanita itu langsung naik ke motorku. Udara malam yang dingin membuat tubuhnya langsung merapat ke tubuhku. Tanpa sungkan, kedua lengannya melingkar di pinggangku. Aku sempat melirik. Tangan yang halus dan mulus. Tanpa ragu, aku mengelus-elus lengannya. Sayang, ada rejeki di depan mata kalau di sia-siakan, Dia diam saja. Aku pun semakin berani.
"Ke penginapan saja ya mba?," Pintaku semakin bernafsu.
"Nginap di rumah mas?. Emoh aku mas, nanti istri mas marah!."
"Aku masih bujangan mba." Sahutku berbohong.
Wanita itu mencubit genit "pager" di pinggangku, "ciyus mas?."
"Ciyus!."
"Miapah?." Tanya wanita itu manja.
"Mi apa ya?. Mi goreng boleh. Hehehe, mie rebus juga boleh." Sebentar saja aku dan wanita itu pun akrab. Aku pun menghayal untuk bisa memiliki wanita itu. Seandainya saja, ia mau jadi istri mudaku. Alangkah indahnya hidup ini. Atau tepatnya, alangkah lengkapnya hidup ini, punya dua istri yang sama-sama cantik. Hehehe.
"Mas, mas, stop, mas!." Teriak wanita itu membuyarkan lamunanku.
Aku menstop motorku, "ada apa?."
"Itu loh mas, penginapannya!." Sahut wanita itu sambil tangannya menunjuk ke suatu arah.
Pandanganku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah bangunan tua yang disulap jadi penginapan. Sebagai orang Jogja asli, perasaan aku kok baru tahu ada penginapan disini. Perasaan curiga sempat menyergapku. "Gak ke Kaliurang saja?." Tanyaku pada wanita itu.
"Jauh, mas!. Nanti kalau sampainya pagi buat apa?. Kita gak bisa bersenang-senang dong." Sahut wanita itu sambil melirik genit.
Bagai kerbau yang di cocok hidungnya, aku pun mengarahkan motor ke penginapan tua itu. Yang penting harga sewanya masih terjangkau dengan isi kantong. Di sepanjang lorong menuju kamar hotel. Aku berjalan sambil menggandeng pinggang gadis itu. Tanganku merayap ke atas punggungnya. Wah aman, tidak ada yang bolong!. Kalau punggungnya bolong berarti wanita ini sundel bolong. Dari jarak beberapa senti wajah wanita itu ku perhatikan lagi. Wajah wanita itu mirip sekali dengan wanita yang bercinta denganku di pemakaman. Apa yang tidak mungkin di dunia ini?, mungkin kebetulan saja dia mirip.
"Ini pak, kamarnya!." Kata petugas penginapan.
Aku kaget melihat angka 13 yang terbuat dari ukiran kayu yang menempel di pintu.
"Siapa yang pesan kamar 13?." Sahutku mengusir kegugupanku. "Tadi waktu check in dikasih kamar no 10!."
"Cuma kamar ini yang masih tersisa, pak!. Yang lainnya sudah full book!."
"Kita pindah saja yuk!." Pintaku pada wanita itu. Mitos angka 13 adalah angka sial mengganggu pikiranku dan membuatku ragu.
"Sudahlah mas disini saja!. Yang penting kan kamarnya bukan angka nya." Pinta wanita itu.
Petugas penginapan lamgsung membuka pintu kamar, Aku melongok ke arah dalam. Sebuah kamar dengan perabot yang sederhana tapi bersih.
"Ya, sudahlah pak!. Kami menginap disini saja." Sahutku pada petugas penginapan.
Petugas penginapan, lelaki tua berwajah pucat itu tersenyum kepadaku. Seringai senyum yang aneh. "Semoga selamat, pak!."
"Apa pak?." Aku tersentak. "Maksud bapak?."
"Oh maaf. Maksud saya "selamat beristirahat", pak." Jawabnya kalem dan tanpa ekspresi apalagi senyum ramah.
Huh dasar penginapan murahan!. Sebagai petugas penginapan, harusnya dia ramah, sopan dan selalu memberikan senyum kepada setiap tamunya. Harga memang tidak bisa dibohongi, penginapan mahal atau hotel berbintang tentu saja pelayanannya akan lebih baik.
Setelah petugas penginapan itu berlalu. Aku pun menutup pintu kamar. Bau kamper langsung menyengat hidungku. Tembok kusam dengan beberapa bagiannya yang ditambal semen secara asal. Lantai dengan ubin berwarna krem yang redup.
Lampu dengan bohlam kecil berukuran 5 watt. Remang cahaya yang tidak mengurangi kemulusan tubuhnya yang kuning langsat. Gairahku yang sempat hilang setelah melihat kondisi kamar kini bangkit kembali setelah gadis itu sudah tidak mengenakan pakaian selembarpun. "Monggo, mas!." Tantang gadis itu genit.
Entah sudah berapa kali kami tunaikan nafsu.
Lagi-lagi aku dibangunkan oleh sorot matahari yang menyengat hangat di wajahku. Aku mengucek mata beberapa kali. Seolah tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Celana jeans, kaus dan jaket kulitku tergeletak berantakan di lantai semen. Aku cuma mengenakan celana dalam saja. Hah!, celana dalam ku lengket. Ada berkas cairan lengket dalam celana dalamku. Apa aku?. Secepatnya ku tepis pikiranku itu.
Kenapa aku tertidur di gedung kosong ini?. Dan kenapa celana dalamku basah?. Bau pesing dan bau apek yang memenuhi ruangan membuatku tak betah berlama-lama di gedung ini. Ku sambar kaus, celana jeans dan Jaket kulitku. Setelah selesai berpakaian, aku cuma bisa menggerutu kesal. Sial!. Hantu itu lagi!. Hantu wanita itu sudah mempermainkanku!. Aku harus balas dendam kepadanya.
Pikiran itu terus berkecamuk di kepalaku. dari mana aku harus memulainya?. Setelah ku renungkan berkali-kali, akhirnya pikiranku terdampar pada si kakek pembersih makam.
Aku pun meluncur ke arah pemakaman untuk menemuinya. "Sial, dua kali saya ditipu, Kek!." Jelasku penuh emosi.
"Masih penasaran?." Tanya kakek itu.
"Saya harus ketemu dengan wanita hantu itu lagi!."
"Masih kurang?."
"Saya ingin memperistri dia. Tahu caranya?."
"Berani tanggung resikonya?."
"Kamu harus membawanya ke alam manusia!."
"Caranya?." Tanyaku penasaran.
"Kalau kamu tidak bisa membawanya ke alam manusia. Maka kamu yang akan dibawa ke alamnya."
"Terus bagaimana caranya supaya bisa ketemu dengannya?."
"Berani tanggung resikonya?. Kalau berani baru saya jelaskan caranya!."
"Berani!." Sahutku tegas.
“Pada saat bercinta, cabutlah paku yang tertancap pada ubun-ubun nya.” Jelas kakek itu.
“Cabut yang keras!, Jangan setengah-setengah!, Cabut sampai pakunya lepas!.”
Kalau paku nya tidak bisa di cabut?."
"Kamu nya yang akan mati!. "Kata Kakek itu menakuti ku.
Malam harinya. Kami melakukan beberapa ritual.pemanggilan hantu, Dalam kepulan asap menyan, mulut kakek itu komat-kamit membaca mantera-mantera. Setelah menunggu beberapa saat wanita itu datang. Wanita yang pernah bercinta denganku di pemakaman dan gedung kosong. Dia mengenakan daster putih panjang yang menutupi sampai mata kakinya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Wajah dan bibirnya pucat. Ada lingkaran hitam disekeliling matanya. Semakin dekat, matanya semakin tajam menatapku.
Tubuhku bergidik takut. Bulu romaku merinding. Aku harus kuatkan hati. Aku sudah berjanji pada kakek itu untuk berani. Ya, aku harus berani.
Desah napasnya yang harum melintas di wajahku. Wanita itu meliuk-liukkan tubuhnya melakukan tarian erotis. Ia semakin mendekat. Aku peluk pinggangnya. Gerakan-gerakannya semakin liar, akhirnya aku pun larut dalam buaian tariannya. Tubuh kami sudah menyatu saling berpelukan.
Bibirnya menciumi seluruh wajahku. Aku masih waras, berusaha untuk tidak terpancing untuk bercinta dengannya. Aku terus perhatikan ke arah rambutnya. Ketika rambutnya tergerai aku lihat sebuah paku besar menancap di ubun-ubunnya. Merah darah yang masih basah menempel di paku itu.
Sekarang waktunya. Ya, aku harus berani. Cabut yang keras dan jangan ragu-ragu. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?. Nanti keburu ia tahu.
“Papaaaaaa!.” Istriku teriak kesakitan. Dengan ganasnya aku menarik gulungan rambut yang menggelung di rambut istriku. Istriku lalu mendorongku hingga terjatuh dari tempat tidur.
terbangun mataku melotot, aku langsung kaget. “Hantuuuu!.”
“Papaaaaa!, ini aku, Pa!. Papa sadar, Pa!.” Teriak istriku.
Aku masih tak percaya dengan penglihatanku. Ku kucek-kucek kembali mataku beberapa kali. Akhirnya baru aku sadar. Lapisan tebal berwarna putih di wajah istriku adalah masker bangkoang yang berguna untuk menghaluskan dan memutihkan kulit wajahnya. Jadi yang tersisa adalah lingkaran hitam, di sekitar matanya. Sehingga aku agak sulit untuk mengenalnya.
Napasku masih tersengal. Hmm, mimpi yang aneh. Bisikku dalam hati.
Sambil menunjuk ke arah celanaku. “Kok celana Papa basah?. Hihihi, Papa mimpi basah ya?.” Tanya istriku.
Ku periksa celanaku yang basah. Hmm, basah tapi bukan karena pipis. Pikirku. Untuk menutupi malu, aku pun langsung ke kamar mandi. Didalam kamar mandi, aku pun masih terheran-heran. Mimpi yang aneh. Pikirku. Kenapa aku bisa mimpi basah?. Aliran air dari shower yang membasahi tubuhku membuat tubuhku segar kembali.
Akhirnya, ku temukan jawabannya. Oh, mungkin karena sudah lama aku tidak bercinta dengan istriku. Secepatnya ku selesaikan mandiku.
Dalam temaram cahaya kamar. Gaun tipis dan tembus pandang istriku itu makin membangkitkan gairahku.
“Ma… .” Kataku manja.
Istriku ‘ngerti apa arti panggilan itu. “Papa mau?.”
“Ho oh.” Jawabku imut-imut.
Aku pun menghampiri istriku, naik ke atas tempat tidur.
Kulemparkan handuk semauku saja. Tanpa mengenakan apapun, aku masuk kedalam selimut tebal.
"Sekarang?." Tanya istriku.
"Iya sekarang!. Masa tahun depan sih!."
“Tapi, Pa… .”
“Kenapa Ma?.
Mama lagi "M", Pa."
"Aduuuuhhhh…!, Tobat!. Kenapa"M" nya sekarang sih, Ma?!." Teriakku kesal.
"Gak bisa ditunda Tahun Depan saja, Ma?."
- S.A.
Komentar
Posting Komentar